Belajar Berdua
November 16, 2011
sangperempuan
Mengalami perjalanan sejarah memang tidak mudah, penuh tantangan, hambatan, dan ujian. Adakalanya bertemu kerikil, kadang batu tajam, dan pasir lembut. Bukan dihindari, untuk memilih keramik yang halus, aspal yang bersih, atau paving blok yang kering. Namun dihadapi dengan segala kemungkinan: kasar, halus, kering, basah, panas, sejuk, dingin, hangat, luas, berbatas, bebas, sendiri, berdua, bersama. Afalaa ta’qiluun.
Proses, Allah swt. sangat menghargai proses. Lihat al Mu’minuun 12-14
12. Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
13. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).
14. Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.
Proses kejadian manusia dari saripati tanah hingga menjadi fisik yang paling baik di antara makhluk-makhluk lainnya, bahkan tidak hanya fisik tetapi juga jiwa yang paling baik (baca: karena mampu membedakan hal baik dan hal buruk).
Dilanjutkan pada ayat 15-16
15. Kemudian, sesudah itu, Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.
16. Kemudian, Sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.
Menjelaskan proses manusia kelak setelah kembali kepada Khalik. Bahkan sampai akhirat pun masih berproses. Maka nikmat manakah yang akan engkau dustakan?
Sekalipun proses tersebut asam, manis, pahit, asin, atau tawar, semuanya wajib disyukuri.
Belajar berdua, bukan mengubahmu menjadi aku, atau mengubah aku menjadi kamu. Akan tetapi mengubah aku dan kamu menjadi KITA. Ajari belajar berdua… .^_^
Entry Filed under: Tak terkategori
Tinggalkan Balasan
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed
